Senin, 13 Juli 2026
[HOAKS: MISLEADING CONTENT]
Beredar unggahan di Facebook yang mengklaim bahwa fenomena Aphelion menjadi penyebab cuaca dingin di sejumlah wilayah Indonesia pada Juli 2026 serta dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti meriang, flu, batuk, dan sesak nafas.
CEK FAKTA :
Berdasarkan penelusuran Kompas.com, klaim tersebut tidak benar. Pakar Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa fenomena Aphelino tidak menyebabkan penurunan suhu di Indonesia. Menurutnya, udara dingin yang terjadi pada Juli dipengaruhi oleh angin dari Australia yang sedang mengalami musim dingin. Penjelasan tersebut juga diperkuat oleh BMKG yang menyebut bahwa suhu dingin pada Juli merupakan fenomena yang umum terjadi saat puncak musim kemarau.
Sementara itu, berdasarkan hasil pemeriksaan Tempo.co, suhu dingin pada Juli hingga Agustus dipengaruhi oleh berkurangnya tutupan awan pada musim kemarau dan masuknya massa udara dingin dari Australia. Tempo juga menjelaskan bahwa perubahan jarak Bumi dengan Matahari saat fenomena Aphelion tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap suhu di Bumi.
KESIMPULAN :
Klaim yang menyebutkan bahwa cuaca dingin di Indonesia pada Juli 2026 disebabkan oleh fenomena Aphelion adalah hoaks. Suhu dingin yang terjadi merupakan fenomena alamiah pada musim kemarau yang dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan aliran massa udara dingin dari Australia, bukan oleh fenomena Aphelion.
RUJUKAN :
TEKS : Putri Manda Sazkia @maandaszk