Senin, 29 Juni 2026
[MISLEADING CONTENT]
Sebuah konten media sosial yang diunggah di platform TikTok bernama @psd4345 pada 21 Mei 2026 menyebarkan narasi bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat disebabkan oleh Indonesia yang disebut menolak pinjaman dari International Monetary Fund (IMF). Konten tersebut memperoleh sekitar 36,9 ribu likes, 363 komentar, dan 2.485 kali dibagikan.
Konten tersebut juga merupakan cuplikan dari video YouTube yang diidentifikasi berasal dari seorang influencer keuangan Gema Goeyardi, yang digunakan dalam konteks penjelasan pasar keuangan. Namun dalam penyebaran ulang di media sosial, cuplikan tersebut disertai narasi yang mengarah pada klaim langsung bahwa penolakan pinjaman IMF menyebabkan pelemahan rupiah.
CEK FAKTA:
Berdasarkan verifikasi oleh AFP Fact Check, klaim tersebut tidak memiliki dasar hubungan kausal langsung secara ekonomi maupun data makroekonomi.
Dilansir dari AFP Fact Check, data Bank Indonesia menunjukkan bahwa:
“Data bank sentral menunjukkan mata uang Indonesia telah kehilangan nilainya terhadap dolar sejak pelantikan Presiden Prabowo Subianto, yang bertentangan dengan klaim konspirasi daring bahwa pelemahan rupiah merupakan hukuman atas penolakan pemerintahnya terhadap tawaran pinjaman IMF pada April 2026.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tren pelemahan rupiah telah berlangsung sebelum isu penolakan pinjaman IMF muncul, sehingga tidak dapat diatribusikan secara langsung sebagai akibat dari peristiwa tersebut.
Masih dalam laporan yang sama, AFP Fact Check juga menegaskan:
“Tidak ada kaitan langsung antara pelemahan rupiah dan penolakan Jakarta terhadap tawaran pinjaman IMF.” kata Latif Adam ,ekonom senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia.
Selain itu, secara mekanisme ekonomi, nilai tukar ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran valuta asing, serta dipengaruhi oleh arus modal, persepsi investor, dan kondisi global.
Hal ini sejalan dengan penjelasan yang dikutip AFP Fact Check dari ekonom BRIN Latif Adam, yang menyatakan bahwa:
“Dari sudut pandang ekonomi, nilai tukar, baik apresiasi maupun depresiasi, ditentukan oleh permintaan dan penawaran mata uang asing.”
Sejalan dengan itu, Kompasiana dalam ulasan edukatif juga menegaskan bahwa pelemahan rupiah merupakan hasil kombinasi berbagai faktor, bukan akibat tunggal dari satu peristiwa politik atau kebijakan tertentu, termasuk isu penolakan pinjaman IMF. Kompasiana menekankan bahwa dinamika nilai tukar dipengaruhi oleh faktor global seperti konflik internasional, suku bunga AS, harga minyak dunia, serta kondisi domestik seperti neraca perdagangan dan inflasi.
KESIMPULAN:
Klaim bahwa Rupiah melemah dikarenakan Indonesia menolak pinjaman dari IMF merupakan berita hoaks. Anjloknya nilai tukar rupiah tidak bisa diputuskan hanya dengan melihat dari 1 faktor saja, mulai dari ketegangan geopolitik, kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang tinggi, Capital Outflow, Harga Komoditas dunia, kepercayaan investor terhadap Indonesia dll. AFP Fact Check maupun analisis ekonomi yang dirujuk dalam Kompasiana menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah merupakan hasil interaksi kompleks berbagai faktor global dan domestik, bukan akibat langsung dari penolakan pinjaman IMF.
RUJUKAN:
TEKS: Raafi Banar Bagas Abdillah @bbagass_