Wujudkan Jabar Anteng di Pilkada Jabar 2024, JSH dan LPI Gelar Diskusi Publik

Dilihat: 172 kali
Jum'at, 24 Mei 2024

Penyebaran hoaks pilkada dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari getok tular atau mulut ke mulut hingga menyebarkannya melalui aplikasi percakapan hingga media sosial. Untuk menekan sebaran hoaks pilkada yang dikapitalisir melalui aplikasi percakapan dan media sosial, tentu dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak, khususnya mereka yang memiliki kompetensi untuk memeriksa fakta dan memiliki jaringan untuk menyebarkan hasil artikel periksa fakta tersebut seluas-luasnya ke berbagai pihak.

Jabar Saber Hoaks berkolaborasi dengan Komunitas Literasi Pemuda Indonesia yang menjadi inisiator periksa hoaks pilkada 2024. Kegiatan perdana dari inisiatif ini adalah dengan melakukan diskusi publik bertema "Bagaimana Kolaborasi Kaum Muda Mengatasi Hoaks Pilkada di Jawa Barat?" pada Rabu, 22 Mei 2024 di Aula Suradiredja FISIP Universitas Pasundan Bandung. "Dalam kegiatan diskusi publik, LPI berkolaborasi dengan Jabar Saber Hoaks atau JSH dan Universitas Pasundan atau Unpas," kata Founder LPI, Dedy Helsyanto.

Dedy menjelaskan kolaborasi kaum muda mengatasi hoaks pilkada, khususnya di Jawa Barat sangat penting dan mendesak. Berdasarkan pengalaman pilkada sebelumnya dan data indeks kerawanan pemilu, beberapa daerah yang melaksanakan pilkada seperti Provinsi Jawa Barat dan kabupaten kotanya masuk dalam kategori Indeks Kerawan Pemilu (IKP) yang dikeluarkan Bawaslu. "Pengalaman pilkada tahun 2017, 2018 dan 2020 tidak terlepas dari hoaks dan politisi SARA di media sosial, dan Jawa Barat masuk ke dalam kategori kerawanan tinggi berdasarkan IKP dari Bawaslu," ujar Dedy.

Untuk menyelesaikan masalah ini, Dedy yang konsentrasi dengan aktivitas periksa fakta dan literasi digital sekitar 7 tahun belakangan menyatakan kolaborasi kaum muda mempunyai peran yang vital dan posisi yang strategis untuk mengatasi hoaks pilkada. "Kaum muda itu masuk sebagai digital natives, mereka kritis dan jumlah mereka yang terpenetrasi internet dan mengunakan media sosial adalah mayoritas. Bayangkan jika banyak diantara mereka yang berpartisipasi dan aktif mengatasi hoaks pilkada dan terliterasi digital, tentu dampak dari sebaran hoaks pilkada dapat diminimalisir," ujar Dedy.

Lebih jauh Dedy mengajak para pemangku kepentingan dalam bingkai pentahelix system untuk terbuka menerima dan merangkul kaum muda untuk melawan hoaks pilkada dan meningkatkan literasi digital mereka. Ketua Jabar Saber Hoaks (JSH), Alfianto Yustinova mengapresiasi inisiatif dari LPI tersebut. Menurutnya Ini sejalan dengan program JSH yang menyasar kaum muda, khususnya Gen Z dalam mengantisipasi maraknya hoaks di Jawa Barat. "Kami di JSH punya program yang mengajak Gen Z untuk menangkal hoaks dan meningkatkan literasi digital mereka. Kami memiliki program Kejar Tabayyun yang menyasar para santri dan program Milarian Fakta yang dimana para pelajar SMA/SMK yang menjadi target pesertanya," ujar Alfianto.

Alfianto pun menjelaskan program lainnya untuk melibatkan kaum muda adalah dengan membuka kesempatan magang kepada para mahasiswa di JSH. "Sudah puluhan mahasiswa dari beberapa universitas atau kampus yang magang di JSH dan mereka diberikan bekal pengetahuan dan keterampilan memeriksa fakta dan juga untuk memimpin serta mengorganisir tim dalam suatu program atau kegiatan," kata Alfianto. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Pasundan, Vera Hermawan mengatakan mendukung penuh kegiatan positif ini. Alasannya dapat meningkatkan kemampuan literasi digital para mahasiswa. "Kemampuan literasi digital adalah modal untuk melawan hoaks. Dan ini yang mesti dimiliki mahasiswa yang berpartisipasi untuk mengatasi hoaks pilkada seperti di Jawa Barat," katanya. Kegiatan diskusi publik ini dibuka oleh Rektor UNPAS, Dr. Kunkunrat, M.Si dan dimoderatori oleh Gelar Aldi. Diketahui kegiatan ini akan dilakukan oleh LPI di beberapa daerah yang menghelat pilkada dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.