Era Vuca Semakin Terbuka

Minggu, 25 Juli 2021

Kemajuan teknologi informasi komunikasi saat ini dapat memberikan dampak yang positif dan negatif. Penyampaian informasi yang cepat melalui berbagai platform media sosial dan tidak jarang informasi tersebut tidak dapat disaring dengan baik. Informasi yang dikeluarkan baik perorang maupun badan usaha ketika telah dikirim dan dibaca oleh banyak orang dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, emosi bahkan tindakan orang atau kelompok. Apalagi jika informasi yang tersebar itu adalah berita bohong atau hoaks.


Sekarang  ini  kita  memasuki  era disrupsi,  dimana banyak terjadi perubahan-perubahan akibat  adanya  kemajuan teknologi.Pertumbuhan  teknologi yang  cepat telah  menyebabkan persaingan  yang  ketat  dan  tingkat percepatan  perubahan  yang inovatif.Selain era disrupsi kita juga sekarang ini  memasuki  era VUCA, Apa itu VUCA? VUCA merupakan akronim untuk Volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (kompleks), dan Ambiguity (tidak jelas), merupakan gambaran situasi di dunia bisnis di masa kini. Awalnya, VUCA diciptakan oleh militer Amerika untuk menggambarkan situasi geopolitik saat itu. Namun karena kesamaan makna, istilah VUCA kini diadopsi oleh dunia bisnis. Bekerja di lingkungan VUCA, membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi secara cepat dan efisien dengan perubahan yang cepat. Setiap orang dituntut untuk menjadi lincah, cepat dan cekatan. Ya, inilah yang terjadi saat ini, segala hal terjadi dan berubah begitu cepat. 


Memasuki tahun 2020, dunia memasuki VUCA jilid dua. Dunia dilanda wabah COVID-19. Kasus ini pertama kali dijumpai di Wuhan namun penyebabnya belum diketahui. Baru pada 11 Februari 2020 WHO mengumumkan nama untuk penyakit coronavirus baru adalah COVID-19. Pendekatan VUCA sangat tepat untuk menggambarkan gelombang pandemik COVID-19 yang saat ini sedang menimpa banyak negara tidak terkecuali diprovinsi Jawa Barat. Menurut, data Pikobar per tanggal 22 Juli 2021 menunjukkan kasus terkonfirmasi positif sebanyak 536.756 kasus dengan korban meninggal akibat COVID-19  sebanyak 7.611 kasus. Penyebarannya yang begitu cepat keseluruh penjuru dunia dengan mutasi virus yang begitu cepat pula menyebabkan kondisi yang cepat berubah, anjuran dari mulai 3M sampai 6M, PSBB hingga PPKM yang terkadang membuat masyarakat bingung istilah – istilah baru yang cepat berganti ditambah lagi dampak yang terjadi hampir menghantam semua sektor penting kehidupan.


Secara mendadak masyarakat Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Tak hanya dunia Kesehatan yang harus berdaptasi dengan cepat begitupun dunia Pendidikan di saat pandemik seperti ini dimana pertemuan tatap muka dirasa terlalu beresiko mau tidak mau suka tidak suka bahkan siap tidak siap para pendidik harus merubah model pembelajaran menjadi berbasis online belum lagi mereka yang menggantungkan ekonomi pada keberadaan pelajar dan mahasiswa, ekonomi mengalami perlambatan dunia usaha lesu karyawan banyak yang diberhentikan tak ada lagi gairah investasi. Perubahan yang tidak stabil dan diikuti oleh berbagai kompleksitas permasalahan, kurangnya informasi dan ketidakpastian akan berapa lama pandemik ini akan berjalan membuat pemerintah kesulitan untuk mengambil kebijakan yang dianggap paling sesuai untuk menangani krisis ini. Meskipun kebijakan yang diformulasikan sebagai respon terhadap situasi VUCA pastinya akan selalu mengalami perbaikan dan perubahan sesuai dengan kondisi terbaru.


Berdasarkan Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Barat Mei 2021 yang di rilis Bank Indonesia Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2021 menunjukkan perbaikan dengan mencatat kontraksi yang semakin kecil menjadi -0,83% (yoy) dari -2,39% (yoy) pada triwulan IV 2020. Perbaikan ini searah dengan perekonomian nasional yang juga mengecil kontraksinya -0,74% (yoy). Dari sisi domestik, perbaikan ekonomi bersumber dari konsumsi rumah tangga yang meningkat dari triwulan sebelumnya, searah dengan membaiknya aktivitas ekonomi yang turut mendorong kenaikan pendapatan dan daya beli masyarakat. Selain itu peningkatan konsumsi juga didorong adanya kenaikan UMK pada mayoritas kabupaten/kota, di samping berlanjutnya bantuan sosial yang turut menjaga daya beli masyarakat kelompok bawah. Namun demikian, akselerasi konsumsi rumah tangga tertahan oleh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan pengurangan cuti bersama pada Maret 2021.


Sementara itu Inflasi Jawa Barat pada triwulan I 2021 yaitu 1,43% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2020 sebesar 2,18% (yoy) maupun triwulan I 2020 yang mencapai 3,94% (yoy). Rendahnya inflasi pada triwulan I 2021 tersebut, disebabkan  adanya permintaan yang masih terbatas, di samping pasokan komoditas pangan yang terkendali dengan adanya panen beberapa komoditas pangan. Berdasarkan kota pembentuk IHK di Jawa Barat, Kota Bekasi mencatat laju inflasi tertinggi, yakni mencapai 1,97% (yoy), sementara Kota Cirebon menjadi kota dengan laju inflasi terendah sebesar 0,82% (yoy). Inflasi IHK tahunan Jawa Barat pada triwulan II 2021 diperkirakan meningkat, antara lain didorong oleh perbaikan daya beli masyarakat dengan cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) Idul Fitri dan peningkatan aktivitas ekonomi, serta mobilitas masyarakat meskipun terbatas dengan adanya kebijakan larangan mudik.


Perbaikan ekonomi Jawa Barat sejak triwulan III 2020 belum cukup kuat untuk memulihkan kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat seperti sediakala. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat masih cukup tinggi yakni sebesar 8,92%. Sejalan dengan hal tersebut, kesejahteraan masyarakat juga belum pulih sepenuhnya. Tercatat pada September 2020, tingkat kemiskinan mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2019 menjadi 8,43%. Namun demikian, angka tersebut belum memotret perbaikan kondisi ekonomi yang terjadi di Jawa Barat sejak akhir tahun 2020 hingga triwulan I 2021.


Masalah publik yang timbul akibat dari situasi yang serba tidak menentu saat ini memberikan multi-layered effect. Sebagai contoh, saat ini berbagai macam masalah baru muncul di masyarakat, seperti halnya munculnya kelompok rentan baru dan homeless di berbagai wilayah di Indonesia dikarenakan pemutusan hubungan kerja sehingga mereka tidak lagi memiliki pendapatan untuk membayar tempat tinggal dan memutuskan untuk keluar dari kontrakan atau indekos yang sebelumnya mereka tempati. Fenomena sosial seperti ini tentunya merupakan efek domino dari krisis ekonomi yang dihadapi karena pandemi.


COVID-19 membutuhkan respon global, dimana daerah termasuk di dalamnya. Tanpa respon dan inisiatif lokal kebijakan global dari Badan kesehatan internasional (WHO) dan kebijakan pemerintah nasional akan sulit untuk diimplementasikan. Peranan Kabupaten/kota sangat penting untuk menciptakan ruang yang melindungi kesehatan dan kesejahteraan warganya di tengah kondisi VUCA. Sekecil apapun langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah memiliki dampak yang cukup luas dan signifikan bagi setiap warganya. Keterbatasan sumber daya baik manusia maupun finansial yang menjadi masalah di sebagian besar pemerintah daerah, selama ini justru memunculkan banyak inovasi kebijakan.


Berkaca pada keadaan saat ini Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jabar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabar, dan bank bjb, berupaya memperkuat implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD), baik di lingkungan pemda provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota di Jabar. Dengan harapan ETPD akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pajak maupun retribusi di tengah pandemi COVID-19. 


Pemerintah Provinsi Jawa baratpun melakukan percepatan digitalisasi ekonomi untuk industri besar, menengah dan kecil, termasuk UMKM, implementasi ETPD menjadi fokus dalam mempercepat dan memperluas digitalisasi perekonomian daerah.Tahap penyelamatan berfokus pada tenaga kerja di berbagai sektor usaha dan menghidupkan kembali UMKM yang terdampak COVID-19. Tahap pemulihan berfokus pada penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor usaha, membuka bidang bisnis, investasi, dan membuka industri besar. Tahap penormalan berfokus pada kelanjutan program pemulihan dan sektor ekonomi lainnya secara normal.


Dikutip dari https://www.jamilazzaini.com/ Ada beberapa hal yang bisa kita siapkan dalam Menghadapi era VUCA, diantaranya diperlukan VUCA yang lain, yakni vision, understanding, clarity, dan agility. Vision adalah sesuatu yang hendak kita wujudkan dimasa yang akan datang. Sesuatu yang layak diperjuangkan. Sesuatu yang menjadi legacy kita di semesta, Understanding, pemahaman akan perubahan dan hal-hal yang perlu disiapkan untuk menghadapinya perlu dipahami dengan baik dan benar. Clarity, kemampuan seseorang melihat masa depan dengan jelas dan yakin yang tidak dilihat oleh lainnya. Agility, kelincahan menghadapi perubahan, Apabila Anda tidak lincah, maka Anda kalah. Apabila Anda sulit berubah maka Anda musnah.



(Penulis: Herni Nurtini, S.Si / Staff Kompilasi Data Diskominfo Jabar)
Diolah dari berbagai sumber

Artikel & Opini
Senin, 04 Oktober 2021
Selasa, 31 Agustus 2021
Minggu, 25 Juli 2021
Kamis, 20 Mei 2021