Di era digital sekarang, orang-orang seringkali memperoleh informasi atau pengetahuan dari berbagai macam sumber, mulai dari media sosial, media cetak, media elektronik, hingga dari percakapan antar pribadi. Dengan informasi tersebut, seseorang dapat memprosesnya dengan cepat. Meskipun demikian, kecepatan dalam penyebaran informasi tidak selalu beriringan dengan jaminan terkait kebenaran dan keakuratan dari informasi yang diterima (Lazer, dkk., 2017 dalam Taswin & Yudiana, 2018).
Fenomena yang dikenal sebagai Illusory Truth Effect terjadi ketika sebuah pernyataan diulang terus menerus dan meyakinkan kita tentang sesuatu, sehingga membuat otak kita merasa terbiasa dan familiar dengan keadaan tersebut, meskipun faktanya masih belum jelas. Penelitian ini telah dilakukan Dr. Lynn Hasher dan koleganya di Temple University dan pertama kali dipublikasikan pada tahun 1977 (Pierre, 2020 dalam Rachmawati, 2020).
Illusory Truth Effect merupakan suatu fenomena dimana hal yang terasa familiar bagi seseorang (ketika ia merasa sering melihat atau mendengar) tanpa memperhatikan benar dan tidaknya informasi, dapat mempengaruhi persepsi untuk percaya bahwa informasi tersebut adalah akurat dan benar (Pennycook, dkk. 2017). Sederhananya, jika suatu informasi terdengar akrab dalam memori seseorang, maka ia cenderung akan menganggap informasi tersebut adalah suatu hal yang benar dan dapat dipercaya.
Dalam Illusory Truth Effect ini, informasi yang seringkali dibicarakan secara terus-menerus memang kerap terdengar benar dibandingkan dengan informasi yang baru diterima. Dalam studi penelitiannya, Fazio, dkk. (2015) juga menunjukkan Illusory Truth Effect menyatakan bahwa pernyataan yang berulang-ulang telah mendapatkan peringkat lebih tinggi dibanding dengan pernyataan baru. Hal yang sama juga disebutkan dalam Henderson, dkk., (2021) saat menilai suatu kebenaran atau keakuratan, orang justru akan menilai pernyataan yang diulang lebih benar secara subjektif daripada pernyataan baru yang sebanding.
Menurut salah satu dosen dari Harvard University sekaligus seorang Psikolog di Praktik Swasta, Dr. Holly Parker, Ph.D., (2024) dalam Psychology Today menyebut Illusory Truth Effect adalah kecenderungan manusia dalam memandang suatu informasi akan lebih meyakinkan jika manusia tersebut pernah mengalami sebelumnya. Ketika otak kita sudah menerima informasi saat sesuatu terjadi, maka di kemudian hari jika hal tersebut terjadi lagi, kita tidak perlu berusaha keras untuk memahaminya.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa yang mendasari terjadinya Illusory Truth Effect yaitu kemudahan manusia dalam memproses informasi (processing fluency) atau disebut juga kelancaran pemrosesan. Menurut penjelasan kelancaran pemrosesan, informasi yang terus berulang membuat sebuah pernyataan lebih mudah diterima dibandingkan dengan pernyataan baru, sehingga pada akhirnya pernyataan tersebut akan disimpulkan sebagai suatu hal yang benar. (Unkelbalch, 2007; Unkelbach & Stahl, 2009 dalam Fazio, Brashier, Payne, and Marsh, 2015). Pernyataan baru tentu saja akan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat diproses, hal tersebut menyebabkan orang cenderung lebih suka menerima informasi yang sudah begitu akrab di pikiran mereka.
Menurut survei yang dilakukan pada guru-guru di Inggris Raya dan Belanda, masing-masing menunjukkan sebanyak 48 persen dan 46 persen telah mempercayai hal keliru, dari mereka meyakini bahwa manusia hanya bisa menggunakan sekitar 10 persen dari keseluruhan otaknya. Kemudian yang menjadi permasalahan adalah hal demikian turut dipercayai oleh sebagian orang lainnya, lalu menganggap “a little brain damage” atau kerusakan otak kecil bukanlah sesuatu yang penting. (Dekker, dkk. 2012; Dijk dan Lane, 2020; Guilmette dan Paglia, 2004; dalam Hassan dan Barber (2021). Kebiasaan mempercayai suatu informasi berdasarkan persepsi yang seringkali terasa benar memang cara paling mudah, namun justru akan merugikan jika informasi tersebut ternyata salah.
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pernyataan berulang terhadap informasi salah akan menciptakan sesuatu yang disebut ‘lingkaran setan’, dimana informasi salah akan dipandang benar oleh mereka, dan disebarkan terus-menerus hingga menjangkau lebih banyak orang lagi. Hasil ini menekankan betapa pentingnya untuk menangani informasi yang salah dengan tanggap dan cepat. Jika seseorang sering melihat informasi yang sama berulang kali, mereka akan cenderung membagikannya lebih banyak, karena merasa informasi tersebut penting dan cukup meyakinkan. Dengan demikian, semakin lama informasi terus beredar, maka semakin tinggi pula kemungkinan informasi tersebut akan dianggap benar dan dibagikan lebih lanjut kepada orang lain (Vellani, dkk., 2023)
Hassan dan Barber (2021) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semakin sering sebuah informasi diulang, maka akan semakin besar pula kemungkinan dipercaya informasi tersebut. Mereka menilai hal tersebut penting untuk kita ketahui, karena bagaimanapun kemudahan teknologi sekarang membuat banyak sekali informasi yang masih dipertanyakan validitasnya. Dalam penelitian mereka juga ditemukan bahwa menerima informasi untuk kedua kalinya menghasilkan peningkatan terbesar dalam menilai kebenaran suatu informasi. Namun lebih jauh lagi, pengulangan yang terjadi berikutnya dapat menurunkan penilaian kebenaran tersebut. Jika informasi terus berulang hingga 9 kali, peningkatan ini mungkin tidak lagi dapat diterima secara instan.
Lalu bagaimana cara mengatasi Illusory Truth Effect? Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan mengevaluasi kebenaran informasi secara sistematis. Artinya dengan melakukan upaya yang lebih efektif untuk mencari tahu informasi secara jelas, yaitu menggunakan sumber-sumber yang kredibel. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu hal yang bisa dilakukan sebagai anak muda adalah mencari dorongan untuk mengumpulkan sumber informasi yang akurat sebagai pengetahuan yang diyakini daripada menggunakan ‘jalan alternatif’ (contohnya kebenaran ilusi ini) untuk menilai suatu kebenaran. Tidak seperti orang dewasa yang lebih tua, mereka justru secara spontan akan menggunakan pengetahuan yang telah disimpan dan pernah dialami (Brashier, Eliseev, dan Marsh, 2020). Hal tersebut tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi anak muda untuk dapat membantu meluruskan penyampaian informasi benar dan akurat kepada mereka yang lebih tua.
Penulis: Hopipah Nurul Ihsan, Mahasiswi Magang di Jabar Saber Hoaks, Jurusan Ilmu Komunikasi Hubungan Masyarakat UIN Sunan Gunung Djati Bandung.