Babi Hutan dan Eksodus
Temen saya diutus untuk mengisi seminar tentang pertanian. Tempat acara tersebut cukup jauh dari rumah tinggalnya. Dia mendapat undangan atas permintaan sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Jadi temen saya seolah menjadi perwakilan dari perguruan tinggi tersebut, padahal ia tidak ada hubungan dengan lembaga perguruan tinggi tersebut, maksud hubungan di sini bahwa temen saya tidak mengajar ataupun meniti ilmu pertaniannya di perguran tinggi tersebut. Barangkali temen saya memiliki pertemanan semacam kumpulan atau grup yang sifatnya ringan saja.
Seminar itu diselenggarakan di wilayah Indonesia Timur yang bisa dikatakan cukup tertinggal jika dibandingkan dengan perkembangan Jakarta sebagai ibu kota atau dengan Bandung yang jauh lebih berkembang. Acaranya di wilayah Ambon, namun tidak sedaratan dengan Ambon, di sebuah Pulau sekitar Ambon, namun cukup jauh dari daratan Ambon itu sendiri. Untuk tiba di tempat acara tersebut bisa menggunakan perjalanan udara atau laut dan memakan waktu cukup lama, nyaris satu hari lebih. Dari Bandung, tentu saja ia harus menggunakan pesawat, meskipun kecepatan perjalanan rata-rata 700 km/jam, itu belum dihitung dengan waktu transit satu atau bahkan dua kali, pertama transit dulu di Surabaya beberapa menit, kemudian transit di Makasar, lalu baru bisa nyampai ke Ambon (perjalanan masih jauh bo…!), kemudian ganti pesawat lagi untuk menuju tempat kegiatan dengan pesawat ramping, atau kalo mau bisa juga dengan jalur laut namun membutuhkan waktu lintasan yang cukup lama, belum ditambah mabok laut. Dan satu hal lagi yang membutuhkan waktu dan bikin kesal di perjalanan: kebiasaan ketidaktepatan jadwal ketibaan dan keberangkatan pesawat yang membuat penumpang lebih akrab dengan “delayed” ketimbang “on time”. Wasting time banget…!
Setiba di Ambon, temen saya mendapat telepon dari pihak panitia, menanyakan posisi perjalanannya sudah ada di mana, khawatir menyasar karena ini kali pertama baginya berpelisiran ke wilayah timur Indonesia. Kagetnya, si Panitia mengabarkan perubahan tema seminar yang semula bicara soal pengolahan pertanian berubah menjadi pananganan babi hutan. Kontan saja teman saya looked blank setengah hidup, karena ia get lost mind abis tentang perkara perhutanan, lagi pula ia bukan jebolan perhutanan, dan udah jauh-jauh sekola ke Amerikan pun cukup lama, tidak sedikit pun menggauli perkara utan-menghutan. Babi Hutan???!!! Idiih…, apalagi perkara yang diharamkan MUI ini sangat tidak tahu menahu. Udah bau, jijik, jorok, mesti diomongin lagi di depan orang banyak, kayak artis aja…! Ketus teman saya dalam hati.
Pusing tujuh putaran membuat mual pengen muntah, jet leg setelah sekian jam mengudara. Menyiapkan materi seminar yang baru tidaklah semudah mengubah judul atau tema dengan hanya satu dua kalimat saja, apalagi dengan tema yang “jijik” ini: penanganan babi hutan. Berdiam sejenak, tarik nafas dalam-dalam. Buka buku referensi, huh…! nihil nggak ada satu pun kosa kata babi hutan, kusak kusuk bongkar folder dan file di laptop, berharap barangkali ada yang iseng nyimpen barang kotor ini, klik search file Babi Hutan, alhasil nihil, yang ada malah babi ngepet urusan mistik, shut down! Mari melamun lagi.
Fuiiih…ternyata bikin degdegan juga nih si panitia. Lupain dulu sejenak soal babi hutan, perut keroncongan, jalan keluar lirik kanan-kiri cari warung nasi. Stop, ada warnet di pojok jalan sana! Syukur puji Tuhan Maha Kuasa di saat hamba tak punya daya, dan lapar pun sekejap tertunda. Barangkali internet dengan dukun Google nya bisa bantu cari perkara tentang babi hutan dan penanganannya. Langsung aja klik di halaman dukun google “Babi Hutan”, keluar dah urusan yang jorok dan jijik ini. Telaah, kopi, lanjut cetak plus gambarnya. Idiih…benar apa yang dibayangkan bahwa babi hutan itu betul-betul nggak cozy banget, nggak enak dilihat, enaknya diludahin, cuh…! Makasih Abah dukun Google.
Abis gitu, nyusun ulang dari nol huruf kembali, tentang tema dan lain sebagainya dalam sekian lamanya. Udah ah kepepet waktu…, daripada bikin makalah dengan paragraf yang panjang, butuh waktu rada lama. Ambil singkatnya (inget waktu mepet), bikin point-pointnya aja dalam presentasi power point, masukan gambar-gambar, beres dah jadi sekian halaman. Lagi pula presentasi secara pointer lebih mudah dan enak dibaca ketimbang membagikan makalah dengan kata-kata yang panjang, cukup pusing juga si pembaca. Pinter juga panitia, dalam sekejap temen saya dapat membuat mengerti dan paham soal babi hutan dan penanganannya.
Hati tenang, pikiran terang, perut kenyang, plong….Besok, manggung solo di meja podium pun siap, atau ngoceh panel di depan meja menghadap khalayak seminar pun tak perlu gentar. Alternatif jawaban sudah di prepare jika pertanyaan-pertanyaan atau keluhan dari peserta meledak.
Sesuai dugaan, pertanyaan nada keluhan datang bertubi-tubi soal babi hutan yang merajalela hingga masuk perkampungan. Babi hutan, selain haram untuk dimakan, juga disinyalir mendatangkan penyakit, menggangu peternakan, merusak perkebunan dan tindakan anarkis lainnya. Sialnya, dominasi penduduk yang bermasalah dengan babi hutan tersebut adalah mereka-mereka yang takut menghadapi babi hutan, lantaran selain haram, juga tidak doyan dengan aktifitas buru memburu. Kemudian teman saya memberikan (dengan berbekal informasi seadanya tanpa pengalaman pembuktian), agar supaya dipasang perangkap yang dapat mematikan si Babi, dan jika si Babi telah kena perangkap dan mati dapat dijadikan makanan untuk buaya, karena habitat buaya cukup banyak di sungai, efek ekonominya, si buaya bisa ditangkar atau di jual kulitnya dengan cara disamak. Sayangnya, jawaban si peserta justru enggan untuk melakukan hal itu, pertama mereka jelas tidak doyan dan takut menghadapi babi hutan apalagi buaya, yang kedua kalaupun itu dilakukan tetap saja hukumnya haram lantaran buaya yang telah dijual, yang kemudian uangnya bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari (pendapatan), telah memakan babi hutan.
Huh…! Tidak semudah ngoceh kayak seminar di Bandung. Tak biasanya, stok solusi dalam otak mendadak kehabisan, kelabakan abiis…cari jalan keluar, padahal teori udah dihidangkan, materi di repeat berkali-kali, gambar-gambar sudah lima kali di tayangkan di slide. Uda deh kembalikan saja ke floor biar kelihatan partisipatif, lantas?
Fenomena babi hutan yang masuk perkampungan yang mendatangkan penyakit ini merupakan barang anyar, artinya jauh hari sebelumnya kehidupan halaman perkampungan adem-adem saja dan tidak ada sama sekali ada persoalan babi hutan. Usut punya usut, kenapa ini kemudian terjadi dan cukup merepotkan masyarakat?
Paska kejadian konflik sosial di Ambon membuat seluruh warga Kristen eksodus besar-besaran dari satu tempat ke tempat lain. Lantas apa hubungannya dengan babi hutan? Memang nggak nampak hubungan langsung antara konflik sosial dengan babi hutan. Babi hutan tinggal di hutan, konflik bunuh-bunuhan secara ramai terjadi dipermukiman jauh dari hutan, adu jotos, saling bakar rumah, bahkan melukai rumah peribadatan. Astaga…, betapa ganasnya ulah. Lantas apa pula hubungannya dengan babi hutan? Belum tampak kausalitasnya antara konflik sosial tersebut dengan fenomena babi hutan yang suka ganggu lahan pertanian. Konflik sosial ya konflik sosial, sebuah gambaran tentang perseteruan dan pertegangan antara kelompok atau blok dengan dukungan situasi mencekam yang seolah hal tersebut adalah wajar bahkan normal, singkat kata nggak ada konflik berarti nggak normal, waduh…kok segitu dramatisnya tuh penjelasan. Masih mending penjelasan ini nggak ganas-ganas amat, dari pada harus memperlihatkan filmnya atau foto-fotonya yang idih….amit amit.
Terlepas dari apakah terpikirkan atau tidak, bahwa konflik sosial dahsyat tersebut dapat mengakibatkan tercerai berainya hubungan kekerabatan manusia satu dengan yang lainnya, dan jangan lupa, perseteruan ini juga mengakibatkan tercerabutnya hubungan kehidupan manusia dengan lingkungan di mana ia menggantungkan isi perutnya. Eksodus bisa jadi sebuah kekalahan dari sebuah peperangan, namun eksodus dapat pula dilihat sebagai sebuah solusi penyelematan generasi yang dengan resiko harus menceraikan hubungan kehidupan dengan lingkungan atau dengan lingkungan sekitar tempat ia menggantungkan diri. Eksodus, di sana ada yang mengusir dan terusir, si terusir dengan berat hati harus angkat kaki meninggalkan kampung halaman sambil kebingungan mencari tempat permukiman yang baru. Ia harus menanggalkan kepemilikan yang tak bisa dibawa, rumah, ladang pertanian, perkebunan, dan mata pencaharian lainnya yang sebelumnya telah lama merupakan tulang punggung mereka. Kenapa tidak dijual saja tanah dan rumah mereka ketika akan melakukan eksodus? Solusi yang rada mustahil dalam keadaan bersitegang (konflik) untuk melakukan transaksi jual beli, boro-boro tukar menukar tanah dengan uang, sertifikat tanah dan rumahnya pun entah di mana, barangkali sudah raib dilahap api lantaran terbakar konflik brutal. Eksodus: semacam ekses krusial dari konflik sosial atau peperangan.
Mereka yang eksodus tidak mempersoalkan keharaman babi hutan, berburu dan mengolah daging babi hutan adalah kebiasaan, bahkan pekerjaan tersebut adalah benar-benar pekerjaan, kalo tidak bisa dikatakan sebagai mata pencaharian, ini adalah the real daily activity. Ruh kehidupan mereka adalah pergi ke hutan untuk memburu babi. Pararel dengan itu, bagi warga yang mengharamkan babi hutan pun terjaga keutuhan kehalalannya dan menjadi aman dari gangguan serangan babi hutan. Eksodus menjadikan terpisahnya antara pemburu dan yang diburu (babi hutan). Di sana pula ada kerinduan yang pupus, interaksi dan tradisi yang hilang. Lumpuhlah apa yang semula seimbang menjadi tidak seimbang, sebuah mata rantai kehidupan yang terputus.
Temen saya termenung, dalam hati menggumam, konklusinya dalam menghadapi soal babi hutan bukan bagaimana mengelola habitat hutan atau menjaga lahan pertanian, melainkan persoalan keagamaan. Bukan bagaimana memusnahkan habitat babi hutan sebagai barang yang haram, melainkan bagaimana memusnahkan amarah dan dengki di dalam habitat manusia yang masing-masing sangat memiliki keimanan terhadap Tuhannya dalam menjaga lingkungannya sebagai anugerah Yang Maha Kuasa. Buktinya, betapa ruginya berkelahi berdarah saling membinasakan antar sesama kulit, sesama daerah, seiklim, sebangsa, senasib hanya soal perbedaan keyakinan, betapa kecewanya Tuhan, dan babi pun ikut mengamuk-ngamuk merusak lahan pertanian dan pemukiman.
So, yang utama diperlukan bukan insinyur pertanian atau ahli kehutanan melainkan para pemuka masyarakat khususnya pemuka masing-masing agama agar duduk kembali hidup berdampingan dan mendialogkan kembali tentang makna keseimbangan hidup antara manusia dan lingkungan dengan dukungan keimanan positif yang dapat saling membangun dan menguntungkan satu sama lain, akankah? Wallahu a’lam, [snd]. Lha, kok jadi serius? (Snd)
Cicalengka, 22 Juni 2009