Doomscrolling, Pemicu Kecemasan Kolektif di Era Digital

Dilihat: 54 kali
Selasa, 18 Februari 2025

Melihat era digital saat ini yang terus berkembang pesat, tentunya tak dapat dipungkiri media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Fenomena yang terjadi di sekitar kita memperlihatkan bahwa media sosial kini bukan hanya sebatas alat untuk berkomunikasi, melainkan telah bertransformasi menjadi alat untuk mendapatkan informasi, hiburan, pekerjaan, dan lain sebagainya (Jeremy Kresna Pandya1, 2024). Hal inilah yang membuat para pengguna sulit untuk melepaskan diri dari menatap layar handphone yang berlebih, bagaimana tidak fenomena ini disebabkan oleh kehebatan media sosial yang mampu menyajikan berbagai jenis konten sesuai kebutuhan pengguna hanya dengan satu platform saja. 

Sayangnya, di tengah kemudahan akses ini algoritma media sosial justru memperbesar kecemasan yang berlebihan. Kecemasan merupakan pengalaman perasaan yang  menyakitkan  serta dapat dikatakan tidak menyenangkan. Perasaan ini timbul dari reaksi ketegangan-ketegangan internal dari tubuh, ketegangan ini akibat suatu dorongan dari dalam maupun dari luar (Hayat, 2014). Kecenderungan ini disebabkan oleh algoritma yang menerus terus menyajikan informasi menarik perhatian pengguna. Fakta ini disimpulkan dari sebuah paper Research Trends in Social Media Addiction and Problematic Social Media Use: A Bibliometric Analysis (2022) oleh Alfonso Pellegrino, Alessandro Stasi, Veera Bhatiasevi yang mengeksplorasi hubungan antara adiksi media sosial dengan masalah kesehatan mental. Temuan yang mereka lakukan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan kecenderungan terhadap kecemasan dan depresi. 

Penggunaan media sosial individu yang secara terus-menerus menelusuri berita-walaupun berita yang mereka telusuri membuat dirinya merasa sedih, tertekan, atau takut- mengacu pada kebiasaan negatif yang disebut dengan doomscrolling (Slaughter, dalam Sharma, Lee, & Johnson, 2022). 

Doomscrolling atau bisa juga disebut dengan doomsurfing adalah kebiasaan menelusuri informasi atau konten secara berlebihan khususnya yang bersifat negatif, hingga pada akhirnya tanpa disadari kebiasaan ini menimbulkan kecemasan secara kolektif. Merriam-Webster dalam kamus daringnya juga mendefinisikan kebiasaan doomscrolling ini merupakan aktivitas yang menghabiskan waktu lama bagi seseorang untuk melihat konten ataupun berita yang dapat memicu perasaan marah, cemas, bahkan perasaan sedih (satici dkk., 2022).

Kebiasaan doomscrolling ini semakin meningkat atau bahkan tidak disadari oleh penggunanya akibat algoritma media sosial yang menampilkan berita atau konten dengan keterlibatan tinggi yang tentunya berdampak buruk bagi kesehatan mental para penggunanya. Systematic review yang berhasil dilakukan oleh Keles dkk., pada tahun 2020 menunjukkan bahwa time spent, investment, bahkan activity di media sosial itu memiliki korelasi yang dapat mempengaruhi tekanan psikologis individu terutama remaja meliputi depresi dan kecemasan yang berlebihan. Kebiasaan ini juga diperparah oleh sifat  media  sosial  itu  sendiri,  di mana algoritma cenderung menampilkan konten yang menarik perhatian dan sering kali berita yang disajikan berupa berita negatif. Algoritma dalam  media sosial merupakan sebuah sistem dan perhitungan yang dapat menentukan urutan konten  yang  akan muncul di  laman  media  sosial  pengguna  berdasarkan  relevansi  konten dengan  pengguna itu sendiri  (Wicaksono, T.A et al., 2024).

Doomscrolling juga memiliki kaitan erat dengan rasa takut ketinggalan atau biasa disebut Fear of Missing Out (Fomo). Data dari sebuah studi juga menunjukkan kelompok yang paling rentan terhadap kebiasaan buruk ini meliputi pria, dewasa muda, dan yang tergolong aktif dalam dunia politik (Studi dari Universitas Florida). Disisi lain, kebiasaan yang berkepanjangan terhadap konsumi informasi negatif dapat membuat persepsi kita terhadap ancaman secara berlebihan dan kondisi ini akan memicu respon stress dalam diri seseorang akibatnya, sepanjang kebiasaan doomscrolling ini melekat maka kita akan merasa tidak aman (Laato et al., 2020).

Dampak buruk dari doomscrolling juga dibuktikan oleh penelitian Rosmalina pada tahun (2018), mereka menegaskan bentuk kecemasan yang diperoleh akibat doomscrolling dapat ditimbulkan melalui imajinatif seseorang maupun ancaman kenyataan. Individu akan menetapkan standar yang tinggi dan sulit dicapai melalui informasi dan berita yang dikonsumsi dan jika ekspektasi itu tidak terpenuhi maka mereka akan cenderung mengalami kecemasan yang lebih besar dari biasanya. Siklus inilah yang sulit dihentikan, di mana seseorang atau mungkin kita yang sedang mengalaminya terus mencari informasi dan berita negatif untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya, bahkan meskipun dalam keadaan sadar siklus buruk ini akan berdampak buruk pada kesehatan mental (ARDI, 2024).

Penelitian dari Satici et al., (2022) menemukan individu yang terlibat dalam kebiasaan doomscrolling pada akhirnya akan berujung pada dampak negatif yang sangat buruk dengan rendahnya life satisfaction, mental well being, dan kesejahteraan dalam hidup. Kondisi ini akan berpengaruh pada suasana hati dan akan menciptakan ketakutan massal apalagi jika dihadapkan dengan situasi krisis global seperti pandemi atau konflik politik.

Menyadari bahwa fenomena doomscrolling berdampak negatif terhadap kehidupan sehari-hari kita tentu menjadi penting untuk mengatasi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari fenomena ini. Dengan memahami bagaimana perilaku ini memiliki konsekuensi negatif, maka langkah awal yang dapat kita lakukan adalah dengan mengelola waktu dan cara kita berinteraksi dengan media khususnya media sosial. Penting untuk memberikan ruang terhadap diri sendiri untuk beristirahat sejenak dari berita dan media sosial dengan memberikan batasan tersendiri terhadap interaksi kita dengan media sosial. Brek, Y., al. (2024) menyampaikan bahwa menetapkan batas waktu terhadap penggunaan media sosial dan juga mengonsumsi berita, dapat mencegah diri dari kelebihan informasi dan melindungi diri dari kegiatan doomscrolling.

Cara efektif untuk mengatasi perilaku doomscrolling (alodokter.com) dimulai dengan kesadaran terhadap emosi di mana ketika kita merasa cemas, stress, atau perasaan takut saat membaca sebuah informasi, penting untuk segera menghentikan aktivitas tersebut. Menghindari berita sensasional yang belum terverifikasi juga menjadi kunci untuk menghentikan kegiatan buruk ini. Alih-alih menelusuri berita negatif, akan lebih baik dan bermanfaat jika kita mengalihkan fokus pada aktivitas yang positif dan menyenangkan.

Penulis: Desy Windayani Budi Artik, Mahasiswi Magang di Jabar Saber Hoaks, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.