JALAN MENUJU KEMERDEKAAN DARI HOAKS

Dilihat: 184 kali
Selasa, 23 Agustus 2022

JALAN MENUJU KEMERDEKAAN DARI HOAKS

Warganet, Wargiantihoaks! Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-77 ini, masih ingatkah dengan ciri khas bangsa kita? Jika kalian menjawab “semangat persatuan dan gotong royong” maka jawaban kalian adalah benar. Semangat persatuan dan gotong royong telah sejak lama menjadi ciri khas bangsa kita. Umumnya, kita mengenal kedua hal tersebut sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, di era yang serba digital ini, apakah semangat persatuan dan gotong royong itu masih diterapkan? Khusunya pada ‘kehidupan digital’ yang selalu kita jalani.

Dilansir dari laman DataIndonesia.id, berdasarkan survey yang dilakukan oleh We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia pada Januari 2022 menginjak angka 191 juta. Jumlah tersebut dikatakan naik sebanyak 12,35% dibandingkan tahun sebelumnya (Ivan Mahdi, 2022). Lalu, jika mengingat salah satu karakteristik media digital, yakni, interaktivitas, maka, setiap orang tidak hanya berperan sebagai viewer, tetapi juga creator. Artinya, mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi atau konten-konten lainnya, tetapi, mereka juga dapat menulis atau mengunggah apapun yang mereka kehendaki, termasuk informasi yang menyesatkan atau hoaks.

Patut diakui bahwa terkadang informasi yang menyesatkan atau hoaks ini memang sulit dikenali. Informasi-informasi tersebut bersifat kontroversial dan mampu menguras emosi pembacanya, karena memang hakikatnya dibuat demikian. Motif asli penyebar kadang tidak diketahui, atau dia sendiri merupakan korban yang terperdayai kemudian ikut menyebarkan tanpa memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Maka dari itu, gotong royong atau kolaborasi untuk memutus penyebaran hoaks sangat penting dilakukan, tidak hanya oleh badan yang berwenang, tetapi juga oleh masyarakat itu sendiri.

Dewasa kini, selain eksistensi badan saber hoaks, beberapa platform berita online telah menyediakan laman cek fakta atas isu-isu yang terindikasi hoaks. Laman tersebut bebas di akses dan menyediakan informasi yang telah melalui proses klarifikasi serta dengan dibarengi kredibilitas. Maka dari itu, selain mengajukan aduan kepada badan yang berwenang, opsi melakukan cek fakta pada paltform berita online yang menyediakan konten klarifikasi atas isu terindikasi hoaks dapat menjadi pilihan alternatif. Konsep “saring sebelum sharing” dan “berpikir kritis” berperan disini. Karena kita semua tidak dapat menghindari terpaan informasi, maka, kita harus bijak dalam memilah dan memilihnya. Dengan demikian, jalan menuju ‘kemerdekaan dari hoaks’ akan terbuka melalui kolaborasi yang tidak hanya dari perusahaan media dan pihak berwenang, tetapi juga dari masyarakat itu sendiri.


Penulis: Renaldi Maulana Yusuf