Dewi Suksesi yang tidak Sukses

Dilihat: 2,040 kali
Senin, 21 Desember 2020

Dewi Suksesi yang tidak Sukses

Pertarungan antara Ramawijaya dan Rahwana tidak mewakili hitam-putih sepenuhnya, belum tentu juga mewakili kebaikan satu pihak dan kejahatan di pihak lain. Bukan pula menggambarkan kemenangan bagi manusia atas iblis dalam wujud makhluk yang menyeramkan.

Perkawinan antara Alengka dan Lokapala dalam bentuk kegagalan Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang disebut dengan kegagalan menghayati sastra jendra yang melahirkan peperangan besar dan dahsyat, dan kutukan dewa pun menyertainya.

Tak terbayang sebelumnya, disaat Sang Ayah, Begawan Wisrawa, maksud hati ingin memenuhi hasrat cinta anaknya yang gundah gulana hendak ingin mempersunting puteri Alengka, Dewi Suksesi. Prabu Danareja, si Raja Lokapala, meminta kepada Ayahnya, Begawan Wisrawa untuk agar membujuk Ayahnya Dewi Suksesi, Prabu Sumali, Raja Alengka, yang merupakan sahabatnya sendiri.

Berangkatlah Begawan Wisrawa itu atas kabul dan dukungan sang istrinya Dewi Lokawati. Sementara anaknya, Prabu Danareja bersama ibunya Dewi Lokawati menanti kabar gembira dan upaya yang dilalukan sang suami tercinta.

Setiba di Alengka di sebuah kerajaan yang dipimipin oleh Raja Prabu Sumali, memiliki persahabatan kuat antara Alengka dan Lokapala. Namun hubungan persahabatan itu tidak membuat mudah bagi Begawan Wisrawa untuk melamar anaknya Sumali, Dewi Suksesi, demi anak tercintanya Prabu Danareja.

Sayembara digaungkan oleh sang paman Dewi Sukesi, Prabu Jambumangli. Siapa saja yang hendak mempersunting keponakannya maka harus mengalahkan pertarungan dengan sang paman, Prabu Jambumangli, yang tidak terkalahkan sebelumnya oleh siapaoun yang hendak mempersunting Dewi Suksesi.

Resi Wisrawa tidak mengundurkan niat untuk memenuhi syarat itu, pertarungan hebatpun terjadi antara Riswara dan Prabu Jambmangli dan berakhir dengan kematian paman Dewi Suksesi.

Kekalahan Prabu Jambumangli di tangan Wisrawa adalah angin kebahagiaan untuk anaknya, Prabu Danareja yang tengah dimabuk asmara. Rupanya kebahagiaan tidak nampak, malah menjadi petaka di saat Begawan Wisrawa terpeleset dalam lubang asmara bersama Dewi Suksesi. Sang Resi tidak mampu menahan nafsu, pun sebaliknya Dewi Suksesi tidak kuat menahan godaan sehingga mereka berdua gagal menghayati sastra jendra, kemudian dewa mengutuk perbuatan nista mereka.

Mereka berdua malah menabur cinta, Dewi Suksesi dan Begawana Wisrawa. Sang Ayah dengan dengan berat hati menyampaikan kesalahan dan kehilafan setiba pulang ke Kerajaan Lokapala. Rasa marah, kecewa, dan berat hati dari seorang Prabu Danareja tak dapat disembunyikan, terlebih kabar ini akan menjadi tanda buruk, cela dan nista di mata rakyatnya.

Dewi Susksesi sudah mengandung buah cinta terlarang dari hubungannya dengan Wisrawa. Dari hubungan ini, Dewi Suksesi dikutuk mengandung dan melahirkan darah, kuku, dan telinga. Darah mewujud dalam rupa rahwana, raksasa jahat bernafsu yang memiliki sepuluh muka (dasa muka), kuku merupa mewujud dalam rupa sarpakenaka, si betina yang nafsu menggoda laki-laki yang memiliki banyak suami, serta telinga dalam rupa kumbakarna raksasa pemakan gunung si pemalas yang suka tidur.

Dalam penyesalan dan pengakuan dosanya, Dewi Suksesi melahirkan anaknya, Wibisana yang kelak membela Ramawijaya, dan berpisah dari kekuasaan Rahwana. Bersambung…(snd)

Inspirasi dari novel berjudul: Anak Bajang Menggiring Angin