Literasi Digital, Jangan Sampai Tertinggal

Rabu, 23 Juni 2021

Pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi secara langsung maupun tidak langsung telah memengaruhi perilaku masyarakat terhadap pola-pola berinteraksi dan berkomunikasi. Tak bisa ditepis kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berbading lurus dengan penggunaan atau pemanfaatan media. Hal tersebut dapat diamati dari  turunnya kuantitas pendengar radio bahkan sudah tidak ada lagi  rumah memiliki radio karena streaming radio dapat dilakukan dimana saja menggunakan handphone, ataupun menggunakan sistem streaming. Begitupun peminat pembaca koran atau majalah cetak yang beralih mengakses e-paper. Dan masih banyak lagi fenomena lainnya yang memiliki dampak terhadap perubahan masyarakat dalam bermedia akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Di era digital, kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi dalam berbagai kegiatan menjadi hal yang krusial yang dapat diartikan sebagai bentuk usaha pribadi dalam mengembangkan kemampuan profesional. Seringkali kita mendengar istilah literasi digital tapi Sebagian masyarakat mungkin belum mengenal apa itu literasi digital. Istilah literasi digital dikemukakan pertama kali oleh Gilster & Watson (1997) sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Sedangkan menurut (Kurnianingsih, Rosini, & Ismayati, 2017)  Ia mengemukakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari piranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks, seperti akademik, karier, dan kehidupan sehari-hari

Secara sederhana, literasi digital merupakan kemampuan untuk mencari, memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital dengan bijak. Jika mengacu pada buku materi pendukung Gerakan Literasi Nasional yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2017), definisi lengkap dari literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, literasi digital ini tidak hanya mencakup pada kemampuan mencari dan membaca informasi dari media digital saja, tetapi dibutuhkan pula suatu proses berpikir secara kritis untuk mengevaluasi, menggunakan dan memanfaatkan informasi yang didapat dari berbagai sumber digital secara benar, cermat, beretika dan penuh tanggung jawab. 

Literasi digital sangat diperlukan saat ini karena dapat menetralkan berita bohong dan dapat mengembangkan kemampuan orang di era digitalisasi. Penggunaan kemampuan literasi digital didukung dengan media sosial yang dapat mendorong perubahan dalam sikap, perilaku dan kognisi ke arah yang lebih baik (Syah & Darmawan, 2019). Lalu apa saja manfaat literasi digital dikutip dari gln.kemdikbud.go.id ada beberapa manfaat dari literasi digital diantaranya adalah:


1. Menghemat waktu, mencari referensi di internet dapat dilakukan kapan saja dan diamana saja

2. Belajar lebih cepat dan efsien, misalnya mencari arti kata tertentu menggunakan aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring

3. Lebih hemat biaya, Banyak situs dan aplikasi gratis di internet yang menawarkan diskon

4. Memperoleh informasi terkini dengan cepat, mengetahui kondisi lalu lintas terkini dengan menggunakan aplikasi

5. memperluas jaringan , menambah teman baru dari berbagai wilayah dengan negara melalui media sosial

6. Ramah lingkungan, meghemat kertas dengan adanya buku elektronik

7.  membuat keputusan yang lebih baik, mencari tahu dan mebandingkan sebuah produk melalui internet

8. Memperkaya keterampilan, membuat percobaan dengan melihat tutorial yang ada di internet


Berdasarkan hasil survey Status Literasi Digital yang dilaksankan oleh kominfo Bersama kata data tahun 2020 mengacu pada “A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills” (UNESCO, 2018) dengan 7 pilar dan  4 sub-indeks berikut hasil surveynya, skor Indeks literasi digital Indonesia yaitu 3,47 yang artinya belum mencapai baik baru sedikit diatas sedang, untuk sub indeks Informasi & literasi data 3,17 . sub indeks komunikasi dan kolaborasi 3,38, sub indeks keamanan 3,66 dan sub indeks kemapuan teknologi 3,66, masih dari hasil survey tersebut, Medsos yang terbanyak digunakan adalah Whatsapp, Facebook, dan Youtube. Dari hasil survei tersebut 40% pengguna Whatsapp memakainya lebih dari 5 jam dalam sehari.

Literasi digital tentunya dipengaruhi beberapa faktor diantaranya; 1) penggunaan media online,2) nilai akademik 3) peran orang tua/keluarga, 4) intensitas membaca (Kuo, 2016; McDougall,Readman, & Wilkinson, 2018). Menurut Statsitik kesejahteraan rakyat Persentase Penduduk Jawa Barat Berumur 5 Tahun Ke Atas yang Menggunakan Telepon Seluler (HP) Dalam 3 Bulan Terakhir sebanyak 76,87%. Kemudian Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun Ke Atas yang Mengakses Internet (termasuk Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp) Dalam 3 Bulan Terakhir menurut 59,90. Sedangakan dalam hal kecakapan membaca Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke atas sekitar 98.41 bisa mambaca huruf latin, 66.26 bisa membaca huruf arab

Sementara itu berdasarkan hasil survey kemendikbud tentang efektivitas program  belajar dari rumah selama  masa Pandemi covid-19 Hampir 90 persen orang tua mendampingi anaknya belajar dari rumah di semua jenjang pendidikan. Survei yang dilakukan Perpusnas di tahun 2015 berjudul “Hasil Kajian Budaya Baca Masyarakat Indonesia”. Dalam survei ini disimpulkan bahwa sebagian besar responden (65%) mengisi waktu luang untuk melakukan aktivitas selain membaca, sementara aktivitas membaca hanya dilakukan oleh 35% responden lainnya. Aktivitas selain membaca yang dominan dilakukan ialah menonton TV (sebanyak 21% responden) dan aktivitas bermain game atau media sosial melalui telepon pintar, tablet, dan komputer (sebanyak 21% responden). Responden yang disurvei secara umum melakukan kegiatan membaca rata-rata dalam seminggu hanya sebanyak 2 sampai 4 kali dengan waktu baca kurang dari 2 jam per hari (termasuk dalam kategori rendah). Rendahnya aktivitas membaca juga dapat dilihat dari rata-rata dalam seminggu hanya menyelesaikan bacaan 0 – 100 halaman.

Hal ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah provisni Jawa Barat Gubernur Jawa Barat menyebut fokus Pemda Provinsi Jabar untuk terus mengembangkan insfrakstruktur digital di perdesaan.  Masterplan Digital West Java yang akan hadir, tidak hanya fokus pada digital goverment tetapi akan terus mengedukasi pengguna digital dalam ramah berdigital. Lalu apa saja upaya dalam meningkatkan literasi digital dikutif dari literasidigital.id Literasi harus direvolusi untuk mencerdaskan masyarakat milenial. Perlu juga percepatan program akselerasi literasi dengan beberapa langkah.


1. Pertama, pemahaman paradigma literasi tidak hanya membaca dan bahan bacaan bukan hanya manual, melainkan juga digital.

2. Kedua, pemenuhan akses internet di semua wilayah.

3. Ketiga, implementasi konsep literasi di semua lembaga pendidikan. Selama ini, yang mendapat akses pengetahuan literasi hanya pelajar, mahasiswa, guru, dosen, petugas perpustakaan dan lainnya. Maka gerakan literasi yang digagas Kemendikbud harus didukung. Mulai dari gerakan literasi dalam keluarga, sekolah dan gerakan literasi nasional.

4. Keempat, menumbuhkan rasa cinta pada ilmu pengetahuan, kebenaran dan fakta. Hal itu tentu harus terwujud dalam kegiatan membaca yang diimbangi validasi, baik membaca digital maupun manual.

5. Kelima, masyarakat harus mengubah gaya hidupnya yang berawal dari budaya lisan, menjadi budaya baca.





(Penulis: Herni Nurtini, S.Si / Staff Kompilasi Data Diskominfo Jabar)


Diolah dari berbagai sumber

Artikel & Opini
Selasa, 31 Agustus 2021
Minggu, 25 Juli 2021
Kamis, 20 Mei 2021
Kamis, 07 Januari 2021